Lika-Liku Menjadi Sekretaris Foto BT Angkatan 58, Story of Rifqi

Di SMA Darul Ulum 1, aku merupakan bagian dari Angkatan 58 Radeva Mavendra. Di awal kelas 12 ini, Angkatan 58 mempunyai agenda besar: Buku Tahunan (BT). Dalam kepanitiaan kali ini aku menjabat sebagai sekretaris, tetapi di samping itu juga ikut merancang sebagian besar konsep BT, mulai dari desain cover, video CAS, hingga formasi areal papermob. Buku tahunan ini dibersamai oleh Loon Art sebagai partner resmi kami. Prosesi foto BT berlangsung selama tujuh hari penuh.

Hari Senin, 8 September 2025, menjadi hari pertama prosesi foto. Agenda dimulai dengan foto seluruh guru, dilanjutkan foto bersama satu angkatan lengkap dengan jargon serta menyanyikan lagu Nina – Feast, lalu berlanjut ke sesi foto organisasi, ekstrakurikuler, hingga foto personal putra. Hari itu terasa cukup berat karena harus mengondisikan bapak-ibu guru dan ratusan teman satu angkatan. Meski sedang berpuasa, aku tetap berusaha menjaga energi dan mood agar tidak tumbang di tengah jalan. Satu hal yang paling menguras tenaga adalah saat mengatur barisan teman-teman putri—di situ aku benar-benar harus ekstra sabar menghadapi “serangan lidah” mereka.

Hari-hari berikutnya berjalan cukup baik. Kami melanjutkan sesi foto kelompok dan take video CAS. Pada hari Kamis, panitia mulai memasang selotip formasi papermob di halaman depan sekolah. Cuaca sangat terik, sampai-sampai kami harus menggunakan payung. Hari Jumat sebenarnya sekolah libur, tapi kami tetap menyempatkan take video CAS dan melanjutkan pemasangan selotip di sore harinya.

Sabtu, aku tidak bisa ikut membantu karena harus mengikuti dua lomba sekaligus. Sebelum itu, aku sudah berpesan kepada panitia agar segera melakukan sosialisasi ke tiap kelas mengenai teknis papermob day pada hari Senin.

Minggu, semua prosesi foto berjalan lancar. Menjelang sore, kami mencoba gladi papermob. Aku yang memegang komando sempat merasa down ketika melihat ekspresi teman-teman putri di barisan—rasa-rasanya seperti sedang diintimidasi. Sorakan yang terdengar pun cukup menusuk telinga. Bu Nita, guru yang mendampingi, menyadari hal itu dan meminta salah satu temanku mengambil alih komando. Aku sempat pesimis, sebab jika menghadapi puluhan orang saja sudah terasa berat, bagaimana besok harus mengondisikan 850+ orang? Saat itu aku sempat mengeluh, tapi Bu Nita menasihatiku untuk fokus saja mencari cara agar mereka bisa dikondisikan, dan tidak usah terlalu memikirkan komentar orang.

Malamnya, sekitar pukul 23.30, aku dan beberapa teman pulang dari ngopi. Aku diajak untuk mengecek keadaan selotip di sekolah. Ternyata banyak yang rusak karena terinjak atau terlindas, bahkan ada huruf yang belum terbentuk. Akhirnya kami lembur hingga pukul 00.45 untuk memperbaikinya. Setelah kembali ke asrama, kami ngobrol sebentar, mempertimbangkan apakah besok akan tetap berpuasa, karena euphoria day pasti cukup berat. Salah satu temanku berkata, “Puasa dulu aja. Kalau nanti benar-benar sudah nggak kuat, tinggal dibatalkan.” Akhirnya kami sepakat tetap berpuasa.

Pagi harinya, aku berangkat ke sekolah 15 menit sebelum pra-KBM. Teman-teman panitia sudah sibuk memasang nomor barisan. Saat pra-KBM, aku mondar-mandir mencari HT, tapi sayangnya semua baterai habis. Setelah itu, panitia mulai mengondisikan barisan.

Meski masih terbayang ekspresi sinis kemarin, akhirnya aku tetap maju mengambil komando. Untungnya, matahari tidak terlalu terik, sehingga selebrasi papermob bisa selesai dalam waktu kurang dari satu jam.

Melihat hasilnya, aku benar-benar speechless sekaligus bahagia. Semua kerja keras, rasa lelah, bahkan momen hampir tumbang, terbayar lunas. Hari itu ditutup dengan euphoria bersama seluruh teman-teman Angkatan 58. Sungguh, hari yang berat… tetapi sama sekali tidak terasa beratnya.